HUBUNGAN ANTARA SISTEM KERJA DENGAN BEBAN KERJA MENTAL PADA GURU SMKN 2 SURABAYA
DOI:
https://doi.org/10.21111/jihoh.v10i2.3Keywords:
beban kerja mental, guru, sistem kerja, WFH, WFOAbstract
Perubahan sistem pembelajaran dari tatap muka ke daring serta penerapan work from home (WFH) dan work from office (WFO) menimbulkan tantangan baru bagi guru, khususnya dalam bentuk peningkatan beban kerja mental akibat tuntutan adaptasi teknologi, keterbatasan interaksi dengan siswa, serta tambahan tugas administrasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan sistem kerja dengan beban kerja mental pada guru SMKN 2 Surabaya. Penelitian bersifat observasional dengan desain cross sectional pada 85 guru ASN yang dipilih menggunakan rumus Slovin dari populasi 140 orang dengan teknik simple random sampling. Variabel bebas adalah jenis kelamin, usia, dan sistem kerja, sedangkan variabel terikat adalah beban kerja mental. Data diperoleh melalui kuesioner dan wawancara, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square dan Spearman. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas guru mengalami beban kerja mental berat (55,3%). Terdapat hubungan signifikan antara jenis kelamin (p=0,031) dan sistem kerja (p=0,000) dengan beban kerja mental, sedangkan usia tidak berhubungan (p=0,456). Guru laki-laki dan guru dengan sistem kerja WFH cenderung memiliki beban kerja mental lebih tinggi dibandingkan guru perempuan dan guru WFO. Disimpulkan bahwa jenis kelamin dan sistem kerja berpengaruh terhadap beban kerja mental, sementara usia tidak berpengaruh. Sistem kerja WFH terbukti meningkatkan beban kerja mental lebih tinggi dibandingkan WFO. Oleh karena itu, diperlukan penyediaan fasilitas istirahat, pelatihan teknologi pembelajaran, serta pembagian tugas yang mempertimbangkan karakteristik individu guna menurunkan beban kerja mental guru.